Pengembangan Emosi, Perkembangan Sosial dan Moral

1.         Perkembangan Emosi Remaja

Pada masa remaja terjadi ketegangan emosi yang bersifat khas sehingga masa ini disebut masa badai dan topan (storm and stress) Heightened Emotionality, yaitu masa yang menggambarkan keadaan emosi remaja yang tidak menentu, tidak stabil dan meledak-ledak. Meningginya emosi terutama karena remaja mendapat tejana sosial dan menghadapi kondisi baru, karena selama masa kanak-kanank mereka kurang mempersiapkan diri untuk menghadapi keadaan-keadaan itu. Kepekaan emosi yang meningkat sering diwujudkan dalam bentuk, remaja lekas marah, suka menyendiri dan adanya kebiasaan nervous seperti gelisah, cemas dan sentimen, menggigit kuku dan garuk-garuk kepala.

Terjadinya peningkatan kepekaan emosi pada remaja hal ini disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:

  1. Perubahan sistem endokrim menyebabkan perubahan fisik
  2. Faktor nutrisi ketegangan emosi
  3. Anemia apatis, disertai kecemasan dan lekas marah
  4. Kurang kalsiumlekas marah, emosi tidak stabil
  5. Adanya cacat tubuh
  6. Hubungan yang tidak harmonis dalam keluarga
  7. Kurangnya model dalam berperilaku
  8. Faktor sosial, tuntutan masyarakat yang terlalu tinggi
  9. Tidak dapat mencapai cita-cita, frustasi
  10. Penyesuaian terhadap jenis kelamin
  11. Masalah-masalah sekolah : masalah penyesuaian diri, emosi, sosial, pertentangan dengan aturan sekolah
  12. Masalah pekerjaan , tidak menentunya kondisi sosial
  13. Hambatan kemauan
  • Peraturan di rumah
  • Norma-norma
  • Hambatan keuangan

Reaksi remaja terhadap frustasi

  1. Agresi, ditujukan orang lain melalui serangan fisik/kata-kata yang ditujukan diri sendiri (menyakiti diri sendiri)
  2. Pengalihan emosi marah, emosi marah dialihkan ke objek lain tetapi dibalik punggung, kepada adik, ortu atau guru (tidak secara langsung)
  3. Withdrawl, menarik diri dalam lamunan atau alam fantasi
  4. Regresi, kembali ke situasi masa perkembangan sebelumnya yang memberi kepuasan
  5. Kompensasi, mencari objek pemuasan di bidang lain sebagai pengganti kegagalan suatu bidang
  6. Frustasi pendorong
  • Tingkah laku konstruktif (usaha lebih giat)
  • Meninjau kembali cita-cita (menurunkan aspirasi)

  1. 2.    Perkembangan Emosi Cinta

Seiring dengan kematangan Kelenjar Kelamin, sebagaimana telah dipaparkan dalam perkembangan psikoseksual maka dalam diri remaja mulai timbul perhatian terhadap lawan jenis, atau sering diistilahkan mulai jatuh cinta

Dilihat dari tahap-tahap perkembangan Emosi Cinta Remaja, akan dilalui beberapa tahap, yaitu:

  1. Crush, akhir masa kanak-kanak/ awal remaja, mulai memuja orang lain yang lebih tua dari jenis seks yang sama, cinta bersifat pemujaan
  2. Hero Worshipping, sama dengan crush, cinta bersifat pemujaan ditujukan pada orang lain yang lebih tua, tetapi dari jenis kelamin yang berbeda dan umumnya berjarak jauh
  3. Boy Crazy dan Girl Crazy, rasa cinta ditujukan pada teman sebaya, tidak hanya satu orang tetapi pada semua remaja dan lawan jenisnya
  4. Puppy love (cinta monyet), Cinta remaja tertuju pada satu orang saja sifatnya masih berpindah-pindah.
  5. Romantic Love, remaja menemukan cinta yang tepat, sifat sudah lebih stabil, sering berakhir dengan perkawinan.

  1. 3.                  Perkembangan Sosial Remaja

Interaksi sosial dengan orang lain dimulai sejak masa bayi dengan cara sangat sederhana. Pada tahun pertama kehidupan, interaksi sosial anak sangat terbatas, yang utama adalah dengan ibu dan pengasuhnya. Interaksi tersebut dilakukan melalui pandangan mata, pendengaran dan bau badan. Kepedulian terhadap lingkungan hampir tidak ada, sehingga bila kebutuhannya sudah terpenuhi anak tidak peduli lagi terhadap lingkungan dan akan segera tidur. Kebutuhan untuk berhubungan dengan orang mulai dirasakan pada usia 6 bulan dan pada usia 2 sampau 6 tahun anak belajar melakukan hubungan sosial dan bergaul dengan berbagai orang diluar lingkungan rumah, terutama dengan teman sebaya. ,ereka belajar menyyesuaikan diri, bekerjasama sambil bermain.

Pada masa kanak-kanak, anak telah memasuki sekolah sehingga hubungan dengan anak-anak lain semakin bertambah dan minat pada kegiatan keluarga semakin berkurang, mereka lebih senang berkelompok dan bermain dengan teman-temannya serta mempunyai keinginan memasuki “gang”, ciri-ciri “gang” pada usia ini antara lain diberi nama, keanggotaannya ditentukan oleh pesertanya, menggunakan tanda pengenal tertentu dan aktifitasnya meliputi permainan dan berbagai kegiatan kelompok. “gang” memberikan manfaat karena mengajarkan kepada anak bersikap demokratis, melatih kerjasama, menghilang sifat mementingkan diri sendiri dan melatih berbagai ketrampilan.

Pada usia remaja pergaulan dan interaksi sosial dengan teman-temannya sebaya bertambah luas dan kompleks dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya termasuk pergaulan dengan lawan jenis. Remaja mencari bantuan emosional dalam kelompoknya. Pemuasan intelektual juga didapatkan oleh remaja dalam kelompoknya dengan berdiskusi, berdebat untuk memecahkan masalah. Mengikuti organisasi sosial juga memberikan keuntungan bagi perkembangan sosial remaja, namun demikian agar remaja dapat bergaul dengan baik dalam kelompok sosialnya diperlukan kompetensi sosial yang berupa kemampuan dan ketrampilan berhubungan dengan orang lain. Keberhasilan dalam pergaulan sosial akan menambahkan rasa percaya diri pada diri remaja dan ditolak oleh kelompok merupakan hukuman yang paling berat bagi remaja. Oleh karena itu setiap remaja akan selalu berusaha untuk diterima oleh kelompoknya. Penerimaan sosial (sosial acceptance) dalam kelompok remaja sangat tergantung pada : a) kesan pertama, b) penampilan yang menarik, c) partisipasi sosial, d) perasaan humor yang dimiliki, e) keterampilan berbicara dan f) kecerdasan.

Pada usia remaja pergaulan dan interaksi sosial dengan teman sebaya bertambah luas dan kompleks dibandingkan denga masa-masa sebelumnya termasuk pergaulan dengan lawan jenis.  Pemuasan interlektual juga didapatkan oleh remaja dalam kelompoknya dengan berdiskusi, berdebat untuk memecahkan masalah.  Mengikuti organisasi sosial juga memberikan keuntungan bagi perkembangan sosial remaja, namun demikian agara remaja dapat bergaul dengan baik dalam kelompoknya diperlukan kopentensi sosial yang berupa kemampuan dan ketrampilan berhubungan dengan orang lain.

Suatu penelitian longitudinal yang dilakukan oleh Bronson, menyimpulkan adanya tiga pola orientasi sosial, yaitu:

  1. a.         Withdrawal vs. Expansive

Anak yang tergolong withdrawal adalah anak yang mempunyai kecenderungan menarik diri dalam kehidupan sosial, sehingga dia lebih senang hidup menyendiri. Sebaliknya anak expansive suka menjelajah, mudah ergaul dengan orang lain sehingga pergaulannya luas.

  1. b.         Reaxtive vs aplacidity

Anak yang reactive pada umumnya memiliki kepekaan sosial yang tinggi sehingg mereka banyak kegiatan, sedangkan anak yang aplacidity mempunyai sifat acuh tak acuh bahkan tak peduli terhadap kegiatan sosial. Akibatnya mereka terisolir dalam pergaulan sosial.

  1. c.         Passivity vs Dominant

Anak yang berorientasi passivity sebenarnya banyak mengikuti kegiatan sosial namun mereka cukup puas sebagai anggota kelompok saja, sebaliknya anak yang dominant mempunyai kecenderungan menguasai dan mempengaruhi teman-temannya sehingga memiliki motivasi yang tinggi untuk menjadi pemimpin

Orientasi pribdi pada salah satu pola tersebut cenderung diikuti sampai dewasa. Pada usia dewasa, individu telah menyelesaikan perkembangannya secara umum dan siap memikul status dan tanggung jawabnya dalam masalah bersama dengan orang dewasa lainnya.

 

1)        Tujuan perkembangan Sosial Remaja

Perkembangan sosial anak telah dimulai sejak bayi, kemudian pada masa kanak-kanak dan selanjutnya pada masa remaja. Hubungan sosial anak pertama-tama masih sangat terbatas dengan orangtuanya dalam kehidupan keluarga, khususnya dengan ibu dan berkembang semakin meluas dengan anggota keluarga lain, teman bermain dan teman sekolah sampai dengan anggota di lingkungan masyarakat bai dengan teman sejenis maup[un lain jenis.

Sesuai hubungan sosialnya beserta tugasnya perkembangannya ada beberapa tujuan perkembangan sosial remaja yaitu:

a)        Memperluas kontak sosial

Remaja tidak lagi memilih teman-teman berdasarkan kemudahanya, apakan disekolah atau dilingkungan tetngga.  Remaja mulai menginginkan teman yang memiliki nilai-nilai yang sama, yang dapat memahami, membuat rasa aman, mereka dapat mempercayakan masalah-masalah dan membahas hal-hal yang tidak dapat dibicarakan dengan orangtua.

b)        Mengembangakan  identitas diri

Remaja dalam kehidupannya mulai ingin menjawab pertanyaan tentang dirinya, siapakah saya?Erikson sering menyebutnya dengan identitas ego, yaitu perkembangan diri kearah individualitas yang mantap, yang merupakan aspek penting dalam perkembangan untuk berdiri sendiri. Bagaiman dirinya menjadi diri yang diharapkan. Untuk dapat menjawab dan sekaligus mewujudkan dalam kehidupannya dari hidup dibawah pengaruh dan sekaligus mewujudkan dalam kehidupannya dari hidup dibawah pengaruh orangtua sampai dapat mandiri, mengambil keputusan sendiri. Sebagaimana dinyatakan Santrock (1997), adolescents do not simply move from parental infuluence into a decision making process all their own. Oleh karena itu, pengalaman hubungan sosial sejak dari kehidupan keluarga, sekolah dan masyarakat menjadi penting karena ikut membentuk identitas diri.

c)         Menyesuaikan dengan kematangan seksual

d)        Belajar menjadi orang dewasa

 

2)        Teori Perkembangan Sosial Ericson

Berdasarkan tahapan perkembangan psikososial yang dikembangkan oleh erikson, nampak bahwa usia remaja, termasuk pada tahap kelima yaitu pencarian identitas versus kebingungan identitas. Dimana pada masa itu remaja dihadapkan pada pencarian pengetahuan tentang dirinya, apa dan dimana serta bagaimana tentang dirinya. Remaja banyak dihadapkan peran baru dan status ornag dewas, seperti pekerjaan, kehidupan yang romantik. Remaja pada saat itu dihadapkan banyak peran sehingga oleh Erikson dikenal dengan krisis identitas, namun jika remaja dapat mengetahui dirinya, atau melalui krisis identitas, maka remaja akan memiliki perasaan senang berkaitan dnegan mantapnya perasaan diri, yang selanjutnya akan berpengaruh pada kesuksesan dalam komitmen dasar kehidupan; pekerjaan; ideologi; sosial; agama; etika dan seksual. Sebaiknya remaja yang tidak dapat menjalankan perannya sesuai dengan harapan, akan dapat menimbulkan masalah dalam pengembangan identitas. Erikson dalam Steinberg (1993), mengidentifikasi ada 3 problem identitas, yaitu kekaburan identitas (identy diffusion), identy foreclosure, negative identy dan respectively.

                        Berkaitan dengan pencapaian identitas, Jmaes Marcia melakukan penelitian yang memfokuskan pada identitas bidang pekerjaan, ideologi dan hubungan interpersonal. Mendasarkan pada respon yang diberikan pada saat wawancara atau pengisian angket individu memilih dua pilihan yaitu 1) melakukan komitmen 2) melakukan eksplorasi. Berdasarkan hasil penelitian remaja dapat dikategorikan menjadi empat status identitas, yaitu  identy achievement (identitas remaja mantap setelah mengalami periode krisis dan percobaan; moratorium (individu masih dalam periode krisis dan eksperimen); foreclosure (individu langsung berkomitmen tanpa melalui periode krisis atau eksperimental dan identy diffusion (individu tidak mempunyai komitmen dan tidak mencoba melakukan sesuatu).

3)        Sikap Sosial Remaja

Perkembangan sikap sosial remaja ada yang disebut sikap konformitas dan sikap heteroseksual. Sikap konformitas merupakan sikap ke arah penyamanan kelompok yang menekankan remaja dapat bersifat positif dan negatif.  Sikap konformitas yang negatif seperti pengrusakan, mencuri dll.  Sedang konformitas positif misalnya menghabiskan sebagian waktu dengan anggota lain yang melibatkan kegiatan sosial yang beik (Santrock,1997).

Perubahan sikap dan prilaku seksual remaja yang paling menonjol adalah bidang heteroseksual ( Hurlock, 1991). Mereka mengalami perkembangan dari tidak menyukai lawan jenis, menjadi menyukai lawan jenis.  Kesempatan dalam berbagai kegiatan sosial  semakin luas, yang menjadikan remaja memiliki wawasan yang lebih luas.  Remaja semakin mampu dalam berbagai kemampuan sosial yang dapat meningkatkan kepercayaan diri.

Terkait dengan hubungan heteroseksual ada beberapa tujuan yang dicapai yaitu;

a)    Remaja dapat berlajar berinteraksi dengan lawan jenis, dimana akan mempermudah perkembangan sosial mereka terutama kehidupan keluarga.

b)   Remaja akan dapat melatih diri untuk menjadi mandiri, yaitu diperoleh dengan berbagai kegiatan sosial.

c)    Remaja akan mendapatkan status tersendiri dalam kelompok,

d)   Remaja dapat belajar melakukan memilih teman.

4)         Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Sosial

Dalam kelompok remaja selalu ada nilai-nilai yang dipergunakan sebagai dasar penerimaan dalam kelompok. Nilai-nilai itu didasarkan pada sekumpulan sifat dan pola perilaku yang disenangi remaja dan dapat menambah gensi atau kelompok yang diidentifikasikan yang disebut oleh Sindroma penerimaan (Hurlock, 1991).

Menurut Hurlock (1991), faktor-faktor yang mempengaruhi penerimaan sosial remaja adalah:

  1. Kesan pertama yang menyenangkan sebagai akibat dari penampilan yang menarik perhatian, sikap yang tenang dan gembira
  2. Memiliki reputasi sebagai orang yang sportif, menyenangkan
  3. Penampilan diri yang sesuai dengan penampilan teman-teman sebaya
  4. Perilaku sosila yang diytandai oleh kerjasama, tanggung jawab, bijaksana, sopan
  5. Matang, terutamalam mengendalikan emosi serta kemauan dalam mengikuti peraturan kelompok
  6. Memiliki sifat kepribadian yang menimbulkan penyesuaian sosial yang baik seperti sifat-sifat jujur, setia, tidak mementingkan diri sendiri dan terbuka
  7. Status sosial ekonomi yang sama atau sedikit di atas anggota-anggota lainnya dalam kelompok
  8. Tempat tinggal yang dekat dengan kelompok sehingga mempermudah hubungan dalam kegiatan.

Sedangkan menurut  Gunarsa Singgih (1990; 24)  Perkembangan sosial manusia dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu: keluarga, kematangan anak, status ekonomi keluarga, tingkat pendidikan, dan kemampuan mental terutama emosi dan inteligensi.

  1. Keluarga

Keluarga merupakan lingkungan pertama yang memberikan pengaruh terhadap berbagai aspek perkembangan anak, termasuk perkembangan sosialnya. Kondisi dan tata cara kehidupan keluarga merupakan lingkungan yang kondusif bagi sosialisasi anak. Di dalam keluarga berlaku norma-norma kehidupan keluarga, dan dengan demikian pada dasarnya keluarga merekayasa perilaku kehidupan budaya anak.

Proses pendidikan yang bertujuan mengembangkan kepribadian anak lebih banyak ditentukan oleh keluarga. Pola pergaulan dan bagaimana norma dalam menempatkan diri terhadap lingkungan yang lebih luas ditetapkan dan diarahkan oleh keluarga.

  1.  Kematangan anak

Bersosialisasi memerlukan kematangan fisik dan psikis. Untuk mampu mempertimbangan dalam proses sosial, memberi dan menerima pendapat orang lain, memerlukan kematangan intelektual dan emosional. Di samping itu, kemampuan berbahasa ikut pula menentukan.

Dengan demikian, untuk mampu bersosialisasi dengan baik diperlukan kematangan fisik sehingga setiap orang fisiknya telah mampu menjalankan fungsinya dengan baik.

  1. Status Sosial Ekonomi

Kehidupan sosial banyak dipengaruhi oleh kondisi atau status kehidupan sosial keluarga dalam lingkungan masyarakat. Masyarakat akan memandang anak, bukan sebagai anak yang independen, akan tetapi akan dipandang dalam konteksnya yang utuh dalam keluarga anak itu. “ia anak siapa”. Secara tidak langsung dalam pergaulan sosial anak, masyarakat dan kelompoknya dan memperhitungkan norma yang berlaku di dalam keluarganya.

Dari pihak anak itu sendiri, perilakunya akan banyak memperhatikan kondisi normatif yang telah ditanamkan oleh keluarganya. Sehubungan dengan itu, dalam kehidupan sosial anak akan senantiasa “menjaga” status sosial dan ekonomi keluarganya. Dalam hal tertentu, maksud “menjaga status sosial keluarganya” itu mengakibatkan menempatkan dirinya dalam pergaulan sosial yang tidak tepat. Hal ini dapat berakibat lebih jauh, yaitu anak menjadi “terisolasi” dari kelompoknya. Akibat lain mereka akan membentuk kelompok elit dengan normanya sendiri.

  1.  Pendidikan

Pendidikan merupakan proses sosialisasi anak yang terarah. Hakikat pendidikan sebagai proses pengoperasian ilmu yang normatif, akan memberikan warna kehidupan sosial anak di dalam masyarakat dan kehidupan mereka di masa yang akan datang. Pendidikan dalam arti luas harus diartikan bahwa perkembangan anak dipengaruhi oleh kehidupan keluarga, masyarakat, dan kelembagaan. Penanaman norma perilaku yang benar secara sengaja diberikan kepada peserta didik yang belajar di kelembagaan pendidikan(sekolah). Kepada peserta didik bukan saja dikenalkan kepada norma-norma lingkungan dekat, tetapi dikenalkan kepada norma kehidupan bangsa(nasional) dan norma kehidupan antarbangsa. Etik pergaulan membentuk perilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

  1.  Kapasitas Mental, Emosi, dan Integens

Kemampuan berpikir banyak mempengaruhi banyak hal, seperti kemampuan belajar, memecahkan masalah, dan berbahasa. Anak yang berkemampuan intelektual tinggi akan berkemampuan berbahasa secara baik. Oleh karena itu kemampuan intelektual tinggi, kemampuan berbahasa baik, dan pengendalian emosional secara seimbang sangat menentukan keberhasilan dalam perkembangan sosial anak.

Sikap saling pengertian dan kemampuan memahami orang lain merupakan modal utama dalam kehidupan sosial dan hal ini akan dengan mudah dicapai oleh remaja yang berkemampuan intelektual tinggi.

5)   Pengaruh Perkembangan Sosial terhadap Tingkah Laku

Pikiran remaja sering dipengaruhi oleh hide-ide dari teori – teori yang menyebabkan sikap kritis terhadap situasi dan orang lain .

Pengaruh egosentris sering terlihat pada pemikiran remaja, yaitu :

a)                      Cita-cita dan idealisme yang baik , terlalu menitik beratkan pikiran sendiri tanpa memikirkan akibat jauh dan kesulitan-kesuliatn praktis.

b)                     Kemampuan berpikir dengan pendapat sendiri belum disertai pendapat orang lain. Pencerminan sifat egois dapat menyebabkan dalam menghadapi pendapat oaring lain , maka sifat ego semakin kecil sehingga terjadi perubahan tingkah laku yang semakin baik dan matang .

(Muhibbin Syah. 2010 : 45)

  1. 4.             Perkembangan Moral

Sunarto H dan Agung Hartono (1994), mengutip pendapat Purwodarminta dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, moral adalah ajaran tentang baik buruk, perbuatan dan kelakuan ahlak, kewajiban dan sebagainya. Prayitno (1992), mengutip pendapat Satrock dan Yussen (1997), menyatakan moral adalah sesuatu yang menyangkut kebiasaan atau aturan yang harus dipatuhi oleh seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain. Wahab & Solehuddin (1999:180), menyatakan bahwa pengertian moral mengacu pada baik buruk dan benar salah yang berlaku di masyarakat luas. Berdasarkan beberapa pengertian moral diatas, dapat disimpulkan bahwa moral adalah ajaran tentang baik buruk, benar salah, akhlak, aturan yang haru dipatuhi dan sebagainya. Maka moral merupakan kendali, kontrol dalam berikap dan bertingkahlaku sesuai dengan nilai-nilai kehidupan, yaitu norma-norma yang berlaku dalam masyarakat atau prinsip-prinsip hidup yang menjadi pegangan hidup seseorang atau moral merupakan bagian penting yang sangat berhubungan dengan perkembangan sosial dalam membuat judgement atau keputusan dalam berperilaku.

Perkembangan moralitas merupakan suatu hal yang penting bagi perkembangan sosial dan kepribadian seseorang. Perkembangan norma dan moralitas sangat berhubungan dengan kata hati atau hati nurani. Kata hati menurut tori belajar (dalam monks dkk, 1998), merupakan suatu sistem norma-norma yang telah terinternalisasi (menjadi milik pribadi) sehinggaseseorang akan tetap melakukan norma-norma meskipun tidak ada kontrol dari luar. Sedangkan moralitas merupakan sesuatu yang dianggap baik yang seharusnya dilakukan dan tidak baik atau tidak pantas dilakukan.

Dari uraian tersebut dapat dilihat bahwa perkembangan moral yang sebenarnya terjadi padamasa remaja sehingga menjadi kehidupan moral merupakan problem pokok dalam masa remaja. Furter mengemukakan berkaitan dengan moral ada 3 dalil yaitu ebagai berikut :

a)      Tingkah laku moral yang sesungguhnya baru terjadi pada masa remaja.

b)      Masa remaja sebagai periode maa muda harus dihayati betul-betul untuk dapat mencapai tingkah laku moral otonom

c)      Ekistensi moral sebagai keseluruhan merupakan masalah moral, hal ini harus dilihat sebagai hal yang bersangkutan dengan nilai-nilai atau penilaian.

Berkaitan dengan perkembangan moral ada beberapa teori yang dikemukakan oleh para ahli yang berusaha menguraikan perkembangan moral remaja yaitu:

  1. 1.      Teori Perkembangan Moral menurut Psikologi Analisis dari Freud

Menurut Freud, manusia mula-mula mempunyai Das Es, yaitu impuls-impuls nafsu. Lalu ada Das Ich, yaitu aku yang menjaga supaya hubungan dengan realitas dapat dikordinir. Akhirnya ada Das Ueber Ich, yaitu aku ideal yang mengendalikan tingkahlaku individu, Das Ueber Ich , dipandang sebagai suatu  intitusi dengan norma-norma yang telah diinternalisasi.

  1. 2.      Teori Perkembangan Moral menurut Pendekatan kognitif dari Piaget

Piaget melandaskan teorinya pada hasil penelitian yang ia lakukan mengenai struktur kognitif dan kajian moral anak selama 40 tahun. Penelitiannya itu didasarkan pada sikap verbal anak (children verbal attitudes) terhadap berbagai aturan permainan, perilaku sehari-hari, mencuri, dan membohong. Selain itu, penelitiannya tersebut  bertolak dari postulat atau asumsi dasar bahwa “moralitas berada dalam suatu sistem aturan, oleh karena itu hakikat moralitas seyogyanya dilihat dari sudut bagaimana individu menyadari kebutuhannya akan aturan itu”. Untuk itu ia meneliti bagaimana anak menyadari adanya aturan dan bagaimana ia menerapkan aturan itu dalam suatu permainan. (Budimansyah Dasim. 2012. 170)

Pendekatan kognitif  menitik beratkan pada pengertian dan pemahaman, maka piaget mengemukakanjenis-jenis moral sebagai berikut:

a)      Tingkatan heteronomi (2-7 tahun)

Pada tingkatan heteronomi, segala aturan oleh anak dipandang sebagai hal yang datang dari luar  jadi bersifat eksternal dan dianggap sakral karena aturan itu merupakan hasil pemikiran orang dewasa. Sifat heteronomi anak disebabkan oleh faktor kematangan struktur kognitif yang ditandai sifat egosentrisme dan hubungan interaktif dengan orang dewasa dimana anak merasa kurang berkuasa dibanding orang dewasa. Anak mengira kalau suatu peraturan adalah mutlak, tidak dapat diubah, ditentukan oleh penguasa, seperti : orang tua, guru, kepala sekolah, lurah dan penguasa lainnya. Pada periode ini anak bertingkah laku baik dan benar untuk menjauhi hukuman, berarti tidak berdasarkan kesadaran.

b)     Tingkatan otonom (10 tahun)

 Pada tingkatan autonomi anak mulai menyadari adanya kebebasan untuk tidak sepenuhnva menerima aturan itu sebagai hal yang datang dari luar dirinya. Pada tingkatan ini anak menunjukkan kemampuan untuk mengkritisi aturan dan memilih aturan yang tepat atas dasar kesepakatan dan kerjasama dengan lingkungannya. Sifat otonomi dipengaruhi oleh kematangan struktur kognitif yang ditandai oleh kemampuan mengkaji aturan secara kritis dan menerapkannya secara selektif yang muncul dari sikap resiprositas dan kerjasama. Anak sudah mulai mengerti kalau peraturan dapat diubah sesuai dengan kepentingan dan kesepakatan bersama. Anak berpendapat bahwa tujuan dari pengaturan adalah memeilhara kepentingan bersama dan saling menghormati. Mengenai hukuman anak berpendapat bahwa hanya individu hanya individu yang melanggar moral yang dapat dihukum, dan itupun harus ada saksinya. Mengenai kejahatan anak, memandang dari niatnya atau maksudnya bukan akibatnya. Misalnya bila seorang dokter membuat sakit pasiennya dengan menyuntik, karena niatnya baik itu tidak melanggar moral, dan tidak mendapat hukuman. Hal ini berbeda dengan pandangan anak yang masih dalam pemahaman moral heteronom. Mereka menganggap dokter jaha karena menyakiti pasien, maka anak anak memushi dojter yang telah mengobatinya.

c)      Periode Transisi (7 tahun-10 tahun)

Periode Transisi merupakan peralihan dari pemahaman moral heteronom dengan pemahaman moral otonom. Dalam periode ini pandangan moral anak masih berubah-ubah. Mereka kadang-kadang masih seperti anak pada periode pemahaman moral heteronom, kadang-kadang sudah seperti anak pada periode pemahaman moral otonom.

Secara teoretik nilai moral berkembang secara psikologis dalam diri individu mengikuti perkembangan usia dan konteks sosial. Dalam kaitannya dengan usia, Piaget (Budimansyah, 2007:172-173) merumuskan perkembangan kesadaran dan pelaksanaan aturan sebagai berikut:

Tahapan pada domain Kesadaran mengenai Aturan:

-       Usia 0-2 tahun: Aturan dirasakan sebagai hal yang tidak bersifat memaksa;

-       Usia 2-8 tahun: Aturan disikapi bersifat sakral dan diterima tanpa pemikiran;

-       Usia 8-12 tahun : Aturan diterima sebagai hasil kesepakatan.

Tahapan pada domain Pelaksanaan Aturan:

-       Usia 0-2 tahun : Aturan dilakukan hanya bersifat motorik saja;

-       Usia 2-6 tahun :Aturan dilakukan dengan orientasi diri sendiri;

-       Usia 6-10 tahun: Aturan dilakukan sesuai kesepakatan;

-       Usia 10-12 tahun:Aturan dilakukan karena sudah dihimpun.

Bertolak dari teorinya itu Piaget menyimpulkan bahwa pendidikan sekolah seyogyanya menitikberatkan pada pengembangan kemampuan mengambil keputusan (decision making skills) dan memecahkan masalah (problem solving) dan membina perkembangan moral dengan cara menuntut para peserta didik untuk mengembangkan aturan berdasarkan keadilan/kepatutan (fairness). Dengan kata lain pendidikan nilai berdasarkan teori Piaget adalah pendidikan nilai moral atau nilai etis yang dikembangkan berdasarkan pendekatan psikologi perkembangan moral kognitif. Disitulah pendidikan nilai dititikberatkan pada pengembangan perilaku moral yang dilandasi oleh penalaran moral yang dicapai dalam konteks kehidupan masyarakat. (Budimansyah Dasim. 2012. 175)

  1. 3.       Teori Perkembangan Moral Lawrence Kohlberg

Selama 18 tahun Lawrence Kohlberg (Budimansyah Dasim. 2012. 175) mengadakan penelitian mengenai perkembangan moral yang berlandaskan pada teori perkembangan kognitif Piaget. Kohlberg mengajukan postulat atau anggapan dasar bahwa anak membangun cara berpikir mereka melalui pengalaman termasuk pengertian konsep moral seperti keadilan, hak, persamaan, dan kesejahteraan manusia. Penelitian yang dilakukannya memusatkan perhatian pada kelompok usia di atas usia yang diteliti oleh Piaget. Dari penelitiannya itu Kohlberg merumuskan adanya tiga tingkat (level) yang terdiri atas enam tahap (stage) perkembangan moral berikut:

TINGKAT I : PRA-KONVENSIONAL (PRECONVENTIONAL)

Stadium 1

(orientasi kepatuhan dan hukuman)

Apapun yang mendapat pujian atau dihadiahi adalah baik, dan apapun yang dikenai hukuman adalah buruk. Pada stadium ini anak patuh untuk menghindari hukuman dan mendapat penghargaan. Pada saat itu anak mengira bahwa aturan-aturan ditentukan oleh penguasa dan tidak dapat diganggu gugat, sehingga jika orang tua atau penguasa menganggapbaik suatu perbuatan maka begitu pula dengan anak dan sebaliknya

Stadium 2

(orientasi individualisme dan instrumental)

Berbuat baik apabila orang lain, berbuat baik padanya, dan yang baik itu adalah bila satu sama lain berbuat hal yang sama. Pada stadium ini berlaku prinsip ralavistik hedonisme. Anak melakukabn sesuatu tergantung kebutuhan (relativisme), dan kesanggupan seseorang (hedonistik).

TINGKAT II KONVENSIONAL (CONVENTIONAL)

Stadium 3

(orientasi konformitas interpersonal)

Sesuatu dipandang baik untuk memenuhi anggapan orang lain atau baik karena disepakati. stadium ini disebut dengan sebutan orientasi konformitas interpersonal, karena yang menjadi fokus pada stadium ini adalah anak menyesuaikan diri terhadap apa yang diyakini masyarakat. Maka anak mematuhi standar moral supaya memperoleh nilai baik dari masyarakat.

Stadium 4

(orientasi hukum dan aturan)

Sesuatu yang baik itu adalah yang diatur oleh hukum dalam masyarakat dan dikerjakan sebagai pemenuhan kewajiban sesuai dengan norma hukum tersebut. Pada stadium ini, individu berpendapat bahwa kegiatan –kegiatan yang bermoral adalah yang sesuai dengan aturan-aturan dalam masyarakat, selain supaya diterima masyarakat juga karen mereka merasa melakukan tugas dan kewajiban ikut mempertahankan aturan-aturan atau norma-norma sosial yang berlaku di masyarakat.

TINGKAT III PASCA-KONVENSIONAL (POSTCONVENTIONAL)

Stadium 5

(orientasi kontrak sosial)

Sesuatu dianggap baik bila sesuai dengan kesepakatan umum dan diterima oleh masyarakat sebagai kebenaran konsensual. Pada stadium ini, individu menyadari adanya hubungan timbal balik dan berdasarkan kontrak antara individu dengan masyarakat. Maka pada saat itu individu masih mau diatur oleh hukum-hukum yang berlaku di masyarakat, walaupun mereka yakin bahwa harus ada kelenturan dalam keyakinan moral, sehingga dimungkinkan adanya perubahan dan perbaikan standar moral apabila dipandang perlu.

Stadium 6

(orientasi etis universal)

Sesuatu dianggap baik bila telah menjadi prinsip etika yang bersifat universal dari mana norma dan aturan ditawarkan. Pada stadium ini sudah terdapat pemahaman yang lebih tajam tentang subjektivitas aturan-aturan sosial. Individu tidak hanya melihat bahwa suatu kontrak atau kesepakatan aturan tertentu secara implisit mengandung unsur subjektivitas dan dapat diubah, melainkan bahwa interpretasi tentang makna dan batasan-batasan dari kontrak dan aturan itu juga bersifat subjektif juga.

Dalam  teorinya tersebut Kohlberg menolak konsepsi pendidikan nilai/karakter tradisional yang berpijak padapemikiran bahwa ada seperangkat kebajikan/keadaban (bag of virtues) seperti kejujuran, budi baik, kesabaran, ketegaran yang menjadi landasan perilaku moral. Oleh karena itu ditegaskannya bahwa tugas guru adalahmembelajarkan kebajikan itu melalui percontohan dan komunikasi langsung keyakinan serta memfasilitasi peserta didik untuk melaksanakan kebajikan itu dengan memberinya penguatan. Konsepsi dan pendekatan tradisional pendidikan nilai ini dinilai tidak memberi prinsip yang memandu untuk mendefinisikan kebajikan mana yang sungguh berharga untuk diikuti. Dalam kenyataannya para guru pada akhirnya berujung pada proses penanaman nilai yang tergantung pada kepercayaan sosial, kultural dan personal. Untuk mengatasi hal tersebut Kohlberg mengajukan pendekatan pendidikan nilai dengan menggunakan pendekatan klarifikasi nilai (value clarification approach) yang bertolak dari asumsi bahwa tidak ada jawaban benar satu-satunyaterhadap suatu dilema moral tetapi di situ ada nilai yang dipegang sebagai dasar berpikir dan berbuat. (Sarwono W Sarlito, 2002 ;54)

  1. 4.      Teori Perkembangan Moral menurut Further

Further dalam (Monks, dkk 1982: 256), menyatakan bahwa tingkah laku moral yang sesungguhnya baru timbul pada masa remaja. Menjadi remaja harus mengerti, menjalankan, mengamalkan nilai-nilai. Berarti remaja sudah dapat menginternalisasi penilaian-penilaian moral, menjadikan sebagai nilai pribadi. Hal ini nampak dalam sikap dan tingkah lakunya.

  1. 5.      Teori Perkembangan Moral Ditinjau dari Teori Belajar

Teori ini menolak adanya sifat bawaan dalam perkembangan moral, dan mengemukakan bahwa semua tingkah laku adalah tingkah laku yang dipelajari. Menurut teori ini kata hati adalah suatu sistem norma yang telah diinternalisasikan (menjadi milik pribadi), sehingga tingkah lakutidak karena hadiah, hukuman atau penguat yang lain, melainkan karena sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan.

Berdasarkan kelima teori perkembangan moral ini dapat disimpulkan bahwa proses belajar dan proses perkembangan kognitif, serta perubahan pola hubiungan sosial dari masa kanak-kanak ke masa remaja memegang peranan penting dalam perkembangan moral.

Dari beberapa hasil penelitian diketahui bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan moral antara lain: orang dewasa yang simpatik, orang yang terkenal, tokoh masyarakat yang menjadi idolanya, orangtua, pendidik, teman dan penalaran yang mendasari.

Di sekolah, pendidik memiliki peran yang sangat penting dalam perkembangan moral, karena seorang penddik dapat mengembangkan nilai-nilai moral kepada peserta didiknya, sebagai berikut:

  1. Memperkenalkan nilai-nilai yang berlaku di masyarakat
  2. Mengembangkan rasa empati peserta didik, supaya mereka lebih memperhatikan orang lain.
  3. Membangkitkan perasaan bersalah
  4. Memperkuat kata hati
  5. Menciptakan komunikasi antara pendidik dengan peserta didik. Di samping itu pendidik memberikan berbagai informasi yang berhubungan dengan moral, memberikan kesempatan kepada peserta didiknya untuk ikut serta dalam pembicaraan pengambilan suatu keputusan dan dalam pengembangan aspek moral.
  6. Menciptakan iklim lingkungan yang kondusif. Untuk ini pendidik harus memberi model atau contoh mengenai perilaku yang bermoral. Peserta didik selain mempunyai lingkungan sekolah, juga mempunyai lingkungan keluarga, organisasi dan mayarakat. Maka pada orang tua, tokoh masyarakat, pimpinan organisasi (pramuka, palang merah, karangtaruna, organisasi pemuda lainnya) harus memberi contoh mengenai perilaku bermoral.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 224 other followers

%d bloggers like this: