KONSERVASI TANAH DAN AIR SEBAGAI UPAYA PELESTARIAN SUMBER DAYA ALAM

Konservasi tanah dalam arti yang luas adalah penempatan setiap bidang tanah pada cara penggunaan yang sesuai dengan kemampuan tanah tersebut dan memperlakukannya sesuai dengan syarat-syarat yang diperlukan agar tidak terjadi kerusakan tanah. Dalam arti yang sempit konservasi tanah diartikan sebagai upaya mencegah kerusakan tanah oleh erosi dan memperbaiki tanah yang rusak oleh erosi. Konservasi air pada prinsipnya adalah penggunaan air hujan yang jatuh ke tanah untuk pertanian seefisien mungkin, dan mengatur waktu aliran agar tidak terjadi banjir yang merusak dan terdapat cukup air pada waktu musim kemarau. Konservasi tanah mempunyai hubungan yang sangat erat dengan konservasi air. Setiap perlakuan yang diberikan pada sebidang tanah akan mempengaruhi tata air pada tempat itu dan tempat-tempat di hilirnya. Oleh karena itu konservasi tanah dan konservasi air merupakan dua hal yang berhubungan erat sekali (Arsyad 2006).

Akhir-akhir ini pemanfaatan air tanah meningkat dengan cepat dari tahun ke tahun, bahkan di beberapa tempat tingkatan eksploitasinya sudah sampai tingkat yang membahayakan. Maka dari itu, air tanah harus tetap dijaga dan dilestarikan keberadaannya. Perlu adanya kerjasama antara pemerintah dan masyarakat dalam rangka pelestarian air tanah. Namun banyak masyarakat belum menyadari akan hal tersebut. Banyak sebagian dari masyarakat yang hanya mengambil daya guna air namun tidak memikirkan ataupun menjaga kemurnian air tanah. Apabila air tanah tidak dilestarikan dapat menyebabkan pencemaran dan bahkan akan berujung pada krisis air tanah.

Fenomena alam adalah termasuk penyebab terjadi pencemaran alam, namun fenomena alam tidak dapat disalahkan. Tidak hanya karena fenomena alam air menjadi tercemar, namun karena ulah dari manusia yang ceroboh dan tidak peduli terhadap lingkungan sekitar terutama air. Seperti membuang limbah rumah tangga dan limbah industri di sungai. Sebagai contoh air sungai yang tercemar yaitu pada aliran sungai Cengkareng. Warna air dari sungai tersebut menjadi hitam pekat yang menunjukkan bahwa air sungai tersebut telah tercemar. Di sini sebenarnya sudah dapat diindikasi kalau sungai-sungai sudah tercemar limbah, begitu juga dengan air tanah di sekitarnya. Apabila air tanah mulai tercemar, ketersediaan air mulai menipis. Apabila tidak segera ditanggulangi, masalah air tanah akan menjadi bom waktu yang akan menyengsarakan banyak orang.

Degradasi Tanah Di Indonesia

Kerusakan tanah didefenisikan sebagai proses atau fenomena penurunan kapasitas tanah dalam mendukung kehidupan. Arsyad (2000) menyatakan bahwa kerusakan tanah adalah hilangnya atau menurunnya fungsi tanah, baik fungsinya sebagai sumber unsur hara tumbuhan maupun maupun fungsinya sebagai matrik tempat akar tumbuhan berjangkar dan tempat air tersimpan. Kerusakan tanah terjadi akibat:

1)        Hilangnya unsur hara dan bahan organic di daerah perakaran.

2)        terakumulasinya garam di daerah perakaran (salinisasi), terakumulasinya unsur beracun bagi tanaman

3)        penjenuhan tanah oleh air (water logging)

4)        erosi.

Degradasi tanah di Indonesia yang paling dominan adalah erosi. Proses ini telah berlangsung lama dan mengakibatkan kerusakan pada lahan-lahan pertanian. Jenis degradasi yang lain adalah pencemaran kimiawi, kebakaran hutan, aktivitas penambangan dan industri, serta dalam arti luas termasuk juga konversi lahan pertanian ke non pertanian.

Kerusakan sumber air terjadi berupa hilangnya atau mengeringnya mata air berhubungan erat dengan peristiwa erosi. Menurunnya kualitas air dapat disebabkan oleh kandungan sedimen dan unsur yang terbawa masuk oleh air yang bersumber dari erosi, tercuci oleh air hujan dari lahan-laha pertanian, atau bahan dan senyawa dari limbah industry atau limbah pertanian. Peristiwa ini disebut dengan polusi air.

Permasalahan Konservasi Tanah

1)      Faktor Alami Penyebab Erosi

Kondisi sumber daya lahan Indonesia cenderung mempercepat laju erosi tanah, terutama tiga faktor berikut:

1)      curah hujan yang tinggi, baik kuantitas maupun intensitasnya,

2)      lereng yang curam,

3)      tanah yang peka erosi, terutama terkait dengan genesa tanah.

Data BMG (1994) menunjukkan bahwa sekitar 23,1% luas wilayah Indonesia memiliki curah hujan tahunan > 3.500 mm, sekitar 59,7% antara 2.000-3.500 mm, dan hanya 17,2% yang memiliki curah hujan tahunan < 2.000 mm. Dengan demikian, curah hujan merupakan faktor pendorong terjadinya erosi berat, dan mencakup areal yang luas. Lereng merupakan penyebab erosi alami yang dominan di samping curah hujan. Sebagian besar (77%) lahan di Indonesia berlereng > 3% dengan topografi datar, agak berombak, bergelombang, berbukit sampai bergunung. Lahan datar (lereng < 3%) hanya sekitar 42,6 juta ha, kurang dari seperempat wilayah Indonesia (Subagyo et al. 2000). Secara umum, lahan berlereng (> 3%) di setiap pulau di Indonesia lebih luas dari lahan datar (< 3%).

Erosi merupakan peristiwa hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian-bagian tanah dari suatu tempat oleh air atau angin. Erosi menyebabkan hilangnya lapisan tanah yang subur dan baik untuk pertumbuhan tanaman serta berkurangnya kemampuan tanah untuk menyerap dan menahan air. Kerusakan yang dialami pada tanah tempat erosi terjadi berupa kemunduran sifat-sifat kimia dan fisika tanah seperti kehilangan unsur hara dan bahan organic, dan mengikatnya kepadatan serta ketahanan penetrasi tanah, menurunnya kapasitas infiltrasi tanah serta kemampuan tanah menahan air. Akibat dari peristiwa ini adalah menurunnya produktivitas tanah, dan berkurangnya pengisian air bawah tanah. Tentunya akibat perubahan sifat fisik dan kimia tanah akibat erosi maka terjadi pula kemerosotan produktivitas tanaman.

Tanah yang tererosi terangkut aliran permukaan yang akan diendapkan di tempat- tempat yang alirannya melambat atau berhenti di dalam berbagai badan air seperti sungai, saluran irigasi, waduk, danau atau muara sungai. Endapan tersebut menyebabkan pendangkalan pada badan sungai dan akan mengakibatkan semakin sering terjadi banjir dan semakin dalam banjir yang terjadi. Berkurangnya infiltrasi air ke dalam tanah menyebabkan berkurangnya pengisian kembali air bawah tanah yang berakibat tidak ada air masuk ke sungai pada musim kemarau. Dengan demikian peristiwa banjir di musim hujan dan kekeringan di musim kemarau merupakan peristiwa lanjutan yang tidak terpisahkan dari peristiwa erosi. Selain itu peristiwa tercucinya unsur hara yang menyebabkan eutrofikasi menjadi salah satu penyebab lain dari proses erosi.

2)      Praktek Pertanian yang Kurang Bijak

Tingginya desakan kebutuhan terhadap lahan pertanian menyebabkan tanaman semusim tidak hanya dibudidayakan pada lahan datar, tetapi juga pada lahan yang berlereng > 16%, yang seharusnya digunakan untuk tanaman tahunan atau hutan. Secara keseluruhan, lahan kering datarberombak meliputi luas 31,5 juta ha (Hidayat dan Mulyani 2002), namun penggunaannya diperebutkan oleh pertanian, pemukiman, industri, pertambangan, dan sektor lainnya. Pada umumnya, daya saing petani dan pertanian lahan kering jauh lebih rendah dibanding sektor lain, sehingga pertanian terdesak ke lahan lahan berlereng curam.

Laju erosi tanah meningkat dengan berkembangnya budi daya pertanian yang tidak disertai penerapan teknik konservasi, seperti pada sistem perladangan berpindah yang banyak dijumpai di luar Jawa. Bahkan pada sistem pertanian menetap pun, penerapan teknik konservasi tanah belum merupakan kebiasaan petani dan belum dianggap sebagai bagian penting dari pertanian.

3)      Faktor Kebijakan dan Sosial- Ekonomi

Kebijakan dan perhatian pemerintah sangat menentukan efektivitas dan keberhasilan upaya pengendalian degradasi tanah. Namun, berbagai kebijakan yang ada belum memadai dan efektif, baik dari segi kelembagaan maupun pendanaan. Selaras dengan tantangan yang dihadapi, selama ini prioritas utama pembangunan pertanian lebih ditujukan pada peningkatan produksi dan pertumbuhan ekonomi secara makro, sehingga aspek keberlanjutan dan kelestarian sumber daya lahan agak tertinggalkan. Padahal aspek tersebut berdampak jangka panjang bagi pembangunan pertanian di masa mendatang. Selain kurangnya dukungan kebijakan pemerintah, masalah sosial juga sering menghambat penerapan konservasi tanah, seperti sistem kepemilikan dan hak atas lahan, fragmentasi lahan, sempitnya lahan garapan petani, dan tekanan penduduk. Kondisi ekonomi petani yang umumnya rendah sering menjadi alasan bagi mereka untuk mengabaikan konservasi tanah.

Konversi lahan pertanian sering disebabkan oleh faktor ekonomi petani, yang memaksa mereka menjual lahan walaupun mengakibatkan hilangnya sumber mata pencaharian (Abdurachman 2004). Selain faktor alami, terjadinya kebakaran hutan dan lahan terutama terkait dengan lemahnya peraturan dan sistem perundangundangan. Selain itu, faktor teknis dan ekonomi juga menjadi pemicu utama kebakaran hutan dan lahan dengan alasan mudah dan murah.

Tindakan Konservasi Tanah dan Air

Masalah konservasi tanah adalah masalah menjaga agar tanah tidak terdispersi, dan mengatur kekuatan gerak dan jumlah aliran permukaan agar tidak terjadi pengangkutan tanah.

Metode konservasi tanah dan air dapat digolongkan ke dalam tiga golongan yaitu sebagai berikut:

  1. Metode Vegetative

Metode vegetative merupakan penggunaan tanaman dan tumbuhan atau bagian bagian tumbuhan atau sisa sisa untuk mengurangi daya tumbuk butir hujan yang jatuh, mengurangi kecepatan dan jumlah aliran permukaan yang pada akhirnya mengurangi erosi tanah. Dalam knservasi tanah dan air metode vegeatif mempunyai fungsi melindungi tanah terhadap daya perusak butir butir hujan yang jatuh dan melindungi tanah terhadap daya perusak air yang mengalir di permukaan tanah serta memperbaiki kapasitas infiltrasi tanah dan penahanan air yang langsung mempengaruhi besarnya aliran permuakaan. Metode vegetative dalam konservasi tanah meliputi penanaman dalam strip, penggunaan sisa tanaman, geotekstil, strip tumbuhan penyangga, tanaman penutup tanah, pergiliran tanaman, agroforestry.

  1. Metode Mekanik

Metode mekanik adalah semua perlakuan fsik mekanis yang diberikan terhadap dan pembuatan bangunan untuk mengurangi aliran permukaan dan erosi, dan meningkatkan kemampuan penggunaan tanah. Metode mekanik dalam konservasi tanah berfungsi untuk memperlambat aliran permukaan, menampung dan menyalurkan aliran permukaan dengan kekuatan yang tidak merusak, memperbaiki atau memperbesar infiltrasi air ke dalam tanah dan memperbaiki aerasi tanah dan penyediaan air bagi tanaman. Metode mekanik dalam konservasi tanah mencakup pengolahan tanah, pengolahan tanah menurut kontur, guludan dan guludan bersaluran menurut kontur, parit pengelak, teras, dam penghambat, waduk, tanggul, kolam atau balong, rorak, perbaikan drainase dan irigasi dll.

  1. Metode Kimia

Metode Kimia Merupakan suatu cara konservasi dengan menggunakan bahan kimia seperti soil conditioner atau bahan-bahan pemantap tanah lainnya sehingga tanah menjadi resisten terhadap erosi. Bahan kimia seperti soil conditioner memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap stabilitas tanah serta pengaruhnya lebih lama. soil conditioner ini baik digunakan bagi lahan yang baru dibuka karena mampu bertahan terhadap mikroba tanah.

Berbagai metode mampu diterapkan dalam konservasi tanah dan air. Dengan teknik tersebut diharapkan tingkat erosi dapat diminimalkan bahkan dicegah. Tentunya dengan menjaga lingkungan menjadi kunci utama dalam pelestarian sumber daya alam khususnya tanah dan air sehingga tanah dan air dapat dimanfaatkan dengan baik oleh makhluk hidup serta siklus hidrologi yang terus berlangsung.

Dengan dilakukan konservasi tanah dan air diharapkan mampu mengurangi laju erosi dan menyediakan air sepanjang tahun yang akhirnya mampu meningkatkan produktivitasnya. Tanah di daerah lahan kering sangat rentan terhadap erosi. Penggabungan metode vegetatif, mekanik dan kimia dalam satu teknologi diharapkan mampu mengefisienkan waktu dan biaya yang dibutuhkan.

Beberapa langkah yang seharusnya dipertimbangkan dalam pengelolaan dan konservasi air tanah :

  1. Konservasi air tanah harus dilakukan dalam rangka upaya memelihara keberadaan serta keberlanjutan kondisi, sifat, dan fungsi air tanah agar senantiasa tersedia dalam kuantitas dan kualitas yang memadai.
  2. Perlu segera diterbitkannya Peraturan Pemerintah (PP) tentang Air Tanah dan Peraturan Presiden (Perpres) tentang Cekungan Air Tanah.
  3. Penyusunan pola dan rencana pengelolaan sumber daya air pada suatu wilayah sungai (WS) perlu memperhatikan kondisi air tanah pada cekungan air tanah (CAT) yang terdapat di dalam WS yang bersangkutan, termasuk bagian CAT yang berada di luar WS.
  4. Upaya pemulihan air tanah yang telah kritis merupakan suatu keharusan untuk segera diimplementasikan, tidak lagi sekedar wacana, sehingga perlu adanya komitmen dari semua fihak.
  5. Kemerosotan kondisi air tanah harus disikapi dengan memperketat izin pengambilan sesuai dengan Undang- Undang No. 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air.
  6. Rekayasa konservasi air tanah perlu ditekankan kepada bentuk nonvegetatif, misalnya pembuatan sumur imbuhan/resapan dan pembangunan di kawasan resapan air yang dilaksanakan dengan rekayasa teknologi akrab lingkungan dapat meningkatkan peresapan air secara signifi kan..
  7. Diharapkan pengelola air tanah dapat menyediakan data real time tentang ketersediaan air tanah di daerah yang mengalami kekeringan, guna mencari alternatif solusi pemenuhan kebutuhan akan air di daerah tersebut.

Dengan Demikian dapat diketahui bahwa lahan di Indonesia telah dan terus mengalami degradasi, yang mengancam keberlanjutan sistem pertanian,ketahanan pangan,kesejahteraan petani, dan kelestarian lingkungan. Oleh karena itu upaya pemerintah dan kerja sama masyarakat sangat diperlukan dalam konservasi tanah dan air di Indonesia, hal ini sangat penting demi kelestarian sumber daya alam di Indonesia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 224 other followers

%d bloggers like this: